Denpasar (Bali Headline) –
Memasuki bulan kedua di Tahun 2026, kondisi ekonomi di sektor perbankan perkreditan rakyat (BPR) diprediksi masih menunjukkan tren yang stabil namun penuh tantangan. Hal ini disampaikan oleh Ni Made Dwi Aryawati, S.P., selaku Ketua Panitia Donor Darah BPR Sri Partha Group sekaligus Direktur Utama PT BPR Shri Gangga Bali Sabtu (21/2).
Berdasarkan pengamatan selama dua bulan pertama di Tahun 2026, Aryawati menyebutkan bahwa kondisi pasar saat ini hampir serupa dengan tahun 2025. Mengacu pada berbagai outlook ekonomi dari instansi pemerintah, sektor pariwisata, hingga Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan rata-rata tahun ini diperkirakan akan berada di kisaran minimal 5%.
Menghadapi dinamika aturan yang terus berkembang, Aryawati menyampaikan harapannya agar kebijakan-kebijakan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak memberikan beban berlebih bagi operasional BPR.
”Saat ini semakin banyak peraturan-peraturan baru yang muncul yang memang mau tidak mau kita harus ikuti semua, dan itu pasti menuntut adanya kinerja BPR yang harus lebih meningkat,” ujar Aryawati.
Dalam menjalankan manajemen bank, Aryawati menekankan pentingnya tiga pilar utama sebagai benteng pertahanan institusi.
Integritas, menjadi landasan utama dalam setiap tindakan manajemen dan karyawan.
Tata Kelola (Good Corporate Governance): Mengedepankan struktur tata kelola yang bersih untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Manajemen risiko, memaksimalkan fungsi pengawasan untuk menghindari risiko terburuk, yakni fraud.
Menurutnya, fraud merupakan ancaman serius atau “sumber malapetaka” bagi perbankan yang dapat berujung pada pencabutan izin usaha. Oleh karena itu, BPR Sri Partha Group berkomitmen untuk terus meningkatkan standar pengelolaan agar fungsi manajemen risiko dapat berjalan secara maksimal.*M01





