​Nusa Dua (Bali Headline) –
Di tengah pesatnya dinamika pembangunan sektor pariwisata nasional, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) terus memperkuat komitmen konkretnya terhadap implementasi pariwisata berkelanjutan. Melalui pendekatan strategi “Protecting Nature” yang menjadi pilar utama framework sustainability perusahaan, BUMN pengelola kawasan pariwisata ini secara agresif mengoptimalkan perluasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di dua destinasi wisata skala internasional kelolaannya, yakni kawasan The Nusa Dua di Bali dan The Mandalika di Nusa Tenggara Barat (NTB).
​Langkah strategis ini mengintegrasikan program ketahanan iklim, efisiensi energi, pengelolaan limbah dan air, hingga perlindungan keanekaragaman hayati dalam satu kesatuan ekosistem kawasan. Hal ini membuktikan bahwa akselerasi destinasi pariwisata nasional tidak hanya bertumpu pada indikator pertumbuhan ekonomi semata, melainkan wajib menciptakan keharmonisan ekologis demi peningkatan kualitas hidup jangka panjang.
​Direktur Komersial & Marketing ITDC, Febrina Mediana, menegaskan bahwa keberadaan RTH memiliki peran yang sangat vital dan strategis dalam mendongkrak kualitas destinasi, sekaligus memperkokoh daya saing pariwisata Indonesia di kancah global. RTH bukan sekadar elemen estetika lanskap belaka, melainkan merupakan bagian dari infrastruktur ekologis yang berkontribusi nyata dalam menekan polusi, mengendalikan suhu udara mikro, serta memperkuat ketahanan kawasan terhadap dampak perubahan iklim.
​“Penguatan RTH di The Nusa Dua dan The Mandalika diarahkan untuk menghadirkan ekosistem destinasi yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan, tidak hanya indah secara visual. Melalui pengembangan pengalaman wisata berbasis alam, seperti aktivitas outdoor, wellness, dan rekreasi di kawasan pesisir, RTH menjadi bagian penting dalam mendorong gaya hidup sehat, memperkuat koneksi manusia dengan alam, serta meningkatkan kualitas pengalaman wisata secara menyeluruh. Pendekatan ini sekaligus menegaskan komitmen ITDC dalam menjaga keberlanjutan destinasi dan memperkuat daya saing pariwisata Indonesia dalam jangka panjang,” kata Febrina Mediana dalam keterangan resminya, Jumat (15/5/2026).
​The Nusa Dua: Pionir Sistem Blue & Green Eco-Utility
​Di kawasan The Nusa Dua, Bali, ITDC secara konsisten mengelola RTH seluas kurang lebih 97 hektare. Angka tersebut merepresentasikan sekitar 27% dari total keseluruhan luas kawasan yang mencapai 359,7 hektare. Dari luasan RTH tersebut, seluas 43 hektare di antaranya telah disulap menjadi hutan kota yang rimbun dengan ditanami lebih dari 5.700 pohon yang mencakup 138 jenis vegetasi, termasuk 32 jenis pohon lokal dan endemik yang dilestarikan secara ketat.
​Komitmen dekarbonisasi di The Nusa Dua juga didukung oleh infrastruktur utilitas ramah lingkungan yang mutakhir. Sejiak tahun 1979, kawasan ini telah menerapkan sistem lagoon (kolam stabilisasi) buatan untuk mengolah air limbah domestik. Sistem ini mampu mengolah hingga ±10.000 m³ air limbah per hari untuk dimanfaatkan kembali sebagai sistem irigasi sirkular penunjang kawasan hijau (circular water system).
​Berdasarkan hasil kajian ilmiah terbaru, efektivitas vegetasi di The Nusa Dua dalam menyerap emisi sangat signifikan. Total serapan karbon di kawasan ini tercatat menyentuh angka 16.279,57 ton karbon. Secara mendalam, rata-rata biomassa total kawasan berada pada angka 102,6 ton per hektare dengan kandungan karbon sebesar ±48,2 ton C per hektare, atau setara dengan kemampuan mitigasi sebesar ±176,8 ton CO₂e per hektare. Data kuantitatif ini membuktikan kemampuan ekosistem buatan ITDC dalam mereduksi jejak karbon pariwisata.
​The Mandalika: Integrasi Green Space dan Konservasi Pesisir
​Sementara itu di Nusa Tenggara Barat, ekspansi pariwisata berkelanjutan di The Mandalika diwujudkan lewat tata kelola lahan seluas kurang lebih 1.175 hektare. ITDC mengalokasikan ruang terbuka hijau yang sangat masif, yakni mencapai 363 hektare atau sekitar 30% dari total luas kawasan. Saat ini, sebesar 19% dari alokasi tersebut telah dikelola secara aktif dan masuk dalam program konservasi lingkungan hidup jangka panjang.
​Guna membentengi wilayah pesisir dari ancaman abrasi, ITDC bergerak cepat. Sepanjang tahun 2025 saja, tidak kurang dari 10.400 pohon paruh hidup telah ditanam di berbagai sudut kawasan. Menginjak tahun 2026 ini, program terus diakselerasi dengan target penanaman 15.000 bibit pohon mangrove di wilayah pesisir guna memperkuat benteng hijau alami sekaligus merevitalisasi habitat ekosistem laut.
​Konsep integrasi yang diusung di The Mandalika memadukan secara harmonis antara green space (ruang vegetasi) dan blue space (elemen air seperti pantai, laguna, dan zona konservasi bahari). Formula ini dinilai efektif meningkatkan ketahanan kawasan terhadap hantaman perubahan iklim global, meningkatkan daya serap air tanah, serta memberikan nilai tambah tinggi bagi pariwisata berbasis lingkungan (ecotourism).
​Melalui implementasi menyeluruh dari prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), ITDC berhasil memosisikan RTH bukan lagi sekadar pelengkap visual, melainkan sebagai infrastruktur hijau yang strategis. Sinergi ini diharapkan menjadi patron baru bagi industri pariwisata nasional yang tangguh, adaptif, serta rendah emisi karbon di masa depan.*M01
ITDC terus  mengoptimalkan perluasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di  kawasan The Nusa Dua di Bali dan The Mandalika di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *