​Gianyar (Bali Headline) –
Persoalan pengelolaan sampah di Kabupaten Gianyar membutuhkan langkah berani, inovatif, dan berkelanjutan. Mengubah pola lama yang bertumpu pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA), Perbekel Desa Temesi, I Ketut Branayoga (Ahok), menggaungkan arah baru pengelolaan sampah modern berbasis ekonomi sirkular. Gagasan strategis tersebut diperkenalkan melalui program podcast bertajuk Branayoga Talks.
​Ketut Branayoga Senin (10/8) menegaskan bahwa keterbatasan daya tampung TPA dan lonjakan volume sampah tahunan menjadikan perluasan lahan bukan lagi solusi jangka panjang. Oleh karena itu, Desa Temesi berkomitmen bertransformasi dari sekadar lokasi TPA menjadi pusat inovasi lingkungan. Salah satu wujud nyatanya adalah pengolahan sampah organik menjadi produk bernilai guna tinggi, yakni “Tanah Subur Temesi”.
​”Jangan lagi melihat sampah sebagai akhir dari sebuah barang, melainkan awal dari sebuah peluang. Ketika sampah organik diolah menjadi Tanah Subur Temesi dan sampah anorganik didaur ulang, kita tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan membangun ekonomi sirkular,” ujar Branayoga saat diwawancarai Redaksi Newsyess.com.
​Melalui Branayoga Talks, Branayoga mendorong kolaborasi lintas sektor antara Pemerintah Kabupaten Gianyar, dinas terkait (DLH, BPKAD, Dinas Pariwisata), hingga desa adat dan pelaku industri pariwisata. Sektor pariwisata—seperti hotel, vila, dan restoran—diajak menjadi bagian dari solusi dengan memanfaatkan Tanah Subur Temesi sebagai media penghijauan taman dan kawasan wisata.
​Ia memungkas dengan pesan agar seluruh elemen masyarakat mengawali perubahan dari rumah melalui pemilahan sampah sejak dari sumbernya demi mewarisi Gianyar yang bersih, hijau, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.*M01
Perbekel Desa Temesi, I Ketut Branayoga (Ahok).
Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *