Gianyar (Berita Utama Bali) –
Sejumlah pelaku seni, budaya, serta pakar desain pencahayaan (lighting) berkumpul di Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Kamis (21/5). Pertemuan ini diadakan dalam rangka pematangkan persiapan festival bergengsi bertajuk Enlightened Bali 2026 yang diselenggarakan berlangsung pada bulan Agustus mendatang.
​Hadir langsung sebagai narasumber dalam acara tersebut para penggagas dan ahli industri pencahayaan nasional, di antaranya:
​Robby Permana Mannas (Direktur Dua Lighting & Salah Satu Pendiri Enlightened Bali )
Abdi Ahsan (Pendiri & Direktur Lumina Group, Light Talk ID, & Pendiri Enlightened Bali )
​Diva Anadria (Pendiri & Direktur Studio Sensar & Creative Head Enlightened Bali )
​Enlightened Bali 2026 hadir sebagai festival inovatif selama empat hari yang merayakan titik temu antara seni, sains, budaya, dan masa depan teknologi pencahayaan. Mengusung tema “PASAR Malam”, festival ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman imersif yang mempertemukan para desainer, arsitek, seniman, brand, kreator, pelajar, hingga komunitas pencinta lighting dalam satu ruang kolaboratif yang hidup.
​Terinspirasi dari filosofi pasar malam tradisional di Indonesia sebagai ruang publik untuk berkumpul, berekspresi, dan berinteraksi, perhelatan ini bertujuan mengubah konsep festival menjadi sebuah pengalaman sosial yang hangat. Di dalamnya, elemen pendidikan, budaya, hiburan, dan eksplorasi cahaya akan melebur menjadi satu kesatuan yang penuh makna.
Pada bagian lain Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, Wayan Adi Perbawa, menyampaikan pandangan dan harapannya agar festival tahunan yang fokus pada desain pencahayaan, arsitektur, dan perhotelan ini mampu melahirkan pola selebrasi baru.
​”Harapan saya, ini menjadi suatu pola selebrasi dalam konsep yang menyatu dengan alam. Ini bukan merupakan sebuah festival musik atau festival budaya Bali biasa,” ujar Wayan Adi Perbawa.
​Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Enlightened Bali merupakan sebuah gerakan untuk mengubah cara industri arsitektur memahami cahaya. Di era modern, cahaya bukan lagi sekedar alat penerangan, melainkan infrastruktur desain vital yang mempengaruhi estetika ruang, kedalaman pengalaman, hingga kinerja psikologis manusia.
​Festival ini ditargetkan menjadi magnet bagi para profesional kreatif, mulai dari arsitek, desainer interior, pakar pencahayaan, hingga para pelaku industri perhotelan.
​Tidak sekadar menjadi atraksi visual, konsep “Pasar Malam” yang diusung diposisikan sebagai bentuk ritual sosial yang berinteraksi erat dengan kearifan lokal.*S01
Pelaku seni, budaya, serta pakar desain pencahayaan (lighting) berkumpul di Desa Ketewel, Sukawati mematangkan persiapan festival bergengsi bertajuk Enlightened Bali 2026.
Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *