Denpasar (Bali Headline) –
Sebuah perenungan mendalam mengenai dinamika hubungan manusia dan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dihadirkan oleh penulis sekaligus pendidik, Fatimah Azzahra. Lewat narasi filosofis yang kontemplatif, Fatimah mengkritik potensi kebangkrutan nalar manusia akibat ketergantungan yang berlebihan pada teknologi.
Fatimah membuka prediksinya dengan kontras yang tajam antara ketenangan alamiah seekor sapi dan kebingungan eksistensial manusia. Sapi, menurutnya, hidup dalam konsistensi murni karena tak memiliki akal untuk mereka-reka masa depan atau merumuskan teori eksistensi. Sebaliknya, manusia dikaruniai akal yang tidak hanya mampu mengingat dan membayangkan, tetapi juga memicu hasrat mendalam untuk mengendalikan alam, benda, hingga pikiran itu sendiri.

Menjelaskan fenomena lahirnya kecerdasan buatan, Fatimah menilai riset AI bukan sekadar upaya menciptakan kecerdasan baru, melainkan manifestasi dari keinginan manusia untuk memegang kendali penuh. Manusia yang lahir secara alami membawa kehendak bebas yang tak bisa dikustomisasi bisa tidak setuju, emosional, dan sulit diterka. AI menjadi sarana untuk menghadirkan “pemikir” yang dapat diatur tanpa adanya penolakan.
Namun, Fatimah memperingatkan adanya ancaman besar di balik kemudahan yang ditawarkan teknologi, yaitu hadirnya budaya taklid pada ciptaan sendiri.
”Manusia tak lagi sekadar menggunakan ciptaan, tetapi mulai mempercayainya lebih daripada kemampuannya sendiri. Perlahan, keputusan yang dahulu membutuhkan pertimbangan matang kini diambil alih oleh mesin. Manusia merasa akalnya bisa dipensiunkan,” papar Fatimah.
Lebih jauh, ia menyoroti keputusasaan terselubung jika peradaban terus menyerahkan fungsi berpikir, memilih, dan memutuskan kepada algoritma. Ironisnya, puncak kemajuan teknologi ini dikhawatirkan justru mengembalikan pola hidup manusia ke tingkat paling mendasar sekadar makan, berjalan, dan bertahan hidup serupa dengan rutinitas sapi, meski dikelilingi oleh gawai dan fasilitas yang serba pintar.
Melalui narasi ini, Fatimah Azzahra tidak mengajak manusia untuk hidup layaknya sapi yang pasif terhadap keadaan. Ia melontarkan ajakan reflektif agar manusia tidak menyerahkan atribut paling berharganya kepada mesin. Kemajuan teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan alasan untuk mematikan daya kritis dan merelakan posisi manusia sebagai pemegang kendali atas dirinya sendiri.*M01





