Gianyar (Bali Headline) —
Pertanyaan mengenai kemampuan Generasi Z (Gen Z) dalam menjaga dan merawat lingkungan hidup dinilai telah bergeser. Gen Z kini dianggap tidak lagi sekadar berada pada ranah “mampu”, melainkan harus membuktikan apakah mereka “mau” untuk konsisten mempraktikkan aksi nyata menjaga alam.
Hal tersebut ditegaskan oleh narasumber I Wayan Sastrawan, S.H., M.H., yang akrab disapa Ayin, saat menjadi pembicara dalam acara talkshow lingkungan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa LSPR Bali Jumat (31/7). Talkshow tersebut mengusung tema “Mampukah Gen Z Menyelamatkan Bumi?”.
Dalam pemaparannya, Ayin menjelaskan bahwa anak-anak muda saat ini berada pada posisi yang sangat strategis. Sebagai bagian dari generasi awal Gen Z (kelahiran 1997), ia menilai Gen Z memiliki peran vital sebagai bridging generation atau penghubung antara generasi di atasnya dan generasi di bawahnya.
”Gen Z adalah jembatan. Generasi di atas kita mungkin ada yang masih kaku atau kolot, terbukti dengan masih maraknya kebiasaan membakar sampah. Sementara di bawah kita ada Generasi Alfa yang sejak lahir sudah akrab dengan teknologi dan internet. Tugas Gen Z adalah menyatukan visi dan mengedukasi mereka,” terang Ayin yang merupakan Putra Pertama dari I Nyoman Cendekiawan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa LSPR Bali serta komunitas anak muda seperti Klasik Kedas yang konsisten bergerak memelihara kelestarian lingkungan.
Ayin turut menyoroti dinamika pengelolaan sampah saat ini. Menurutnya, konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang diajarkan sejak bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi kerap terasa rumit ketika dipraktikkan, sehingga banyak masyarakat belum terbiasa memilah sampah secara mandiri.
Padahal, regulasi seperti Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber telah berjalan sekitar 5–7 tahun. Meski demikian, penerapannya di lapangan masih diwarnai kegagapan dari sebagian masyarakat.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), timbulan sampah terbesar justru berasal dari sektor rumah tangga, yakni mencapai 71%. Sementara itu, tingkat pengelolaan sampah secara keseluruhan di Bali tercatat baru mencapai sekitar 57%.
”Sampah organik dapur yang tercampur di TPA akan menghasilkan gas metana. Saat musim kemarau dan terpapar panas ekstrem, gas metana inilah yang sering memicu kebakaran hebat di TPA. Oleh karena itu, penanganan sampah organik dari dapur rumah tangga adalah kunci,” tegasnya.
Sebagai langkah konkrit, Ayin mengajak mahasiswa dan masyarakat luas untuk memanfaatkan Eco-Enzyme, yaitu cairan fermentasi dari sisa sampah organik dapur seperti kulit buah dan sayuran.
Pembuatan Eco-Enzyme menggunakan rumus sederhana 1 : 3 : 10 (1 bagian gula/molase, 3 bagian bahan organik, dan 10 bagian air) yang difermentasi dalam wadah tertutup selama 90 hari.
Dalam aksi praktis bersama mahasiswa LSPR Bali pada kegiatan tersebut, peserta berhasil mengolah 18 kg sampah kulit buah ke dalam dua gentong berkapasitas total 100 liter. Aksi ini secara langsung mencegah belasan kilogram bahan organik terbuang ke TPA. Cairan Eco-Enzyme maupun turunannya dapat dimanfaatkan sebagai pembersih rumah tangga, sabun cair organik, pupuk tanaman, hingga penjernih air dan udara.
Mengakhiri pemaparannya, Ayin menegaskan pentingnya kolaborasi Pentahelix yang melibatkan akademisi, komunitas/praktisi, media, bisnis, dan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan sampah. Bagi anak muda maupun mahasiswa yang tinggal di rumah kos, pengelolaan sampah organik dengan Eco-Enzyme sangat memungkinkan dilakukan bersama-sama.
”Pilihannya ada di tangan kita: mau atau tidak untuk merawat bumi ini?” pungkasnya.*M01





