Yogyakarta (Bali Headline) –
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asian Development Bank (ADB) resmi membuka rangkaian kegiatan 45th ASEAN+3 Bond Market Forum (ABMF) di Yogyakarta, Senin (2/2). Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara plus Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan untuk memperkuat integrasi pasar obligasi dan memacu instrumen keuangan berkelanjutan.
Direktur Eksekutif Kelompok Spesialis Pasar Modal OJK, Retno Ici, menegaskan bahwa kolaborasi lintas negara ini bertujuan untuk menciptakan standar dan harmonisasi regulasi guna mempermudah transaksi obligasi lintas batas di kawasan ASEAN+3.
Inisiatif Hijau dan Capaian Indonesia
Dalam sambutannya, Retno memaparkan langkah konkret OJK dalam mendukung ekonomi hijau melalui POJK Nomor 18 Tahun 2023. Regulasi ini memperluas cakupan efek utang dan sukuk tidak hanya pada aspek lingkungan (green), tetapi juga mencakup aspek sosial dan keberlanjutan lainnya.
Hingga akhir Desember 2025, pasar modal Indonesia menunjukkan tren positif dalam instrumen berbasis lingkungan:
Total Outstanding: Mencapai Rp54,94 triliun (setara USD3,28 miliar).
Cakupan: Meliputi kategori green, social, sustainability, dan sustainability-linked bonds.
”Kehadiran regulator, investor, dan akademisi di sini mencerminkan komitmen kita bersama untuk mendorong pasar modal yang tangguh, inklusif, dan berorientasi ke masa depan,” ujar Retno.
Mengurangi Ketergantungan Eksternal
Selain isu keberlanjutan, OJK juga fokus pada pengembangan Local Currency Bond Market (LCBM) atau pasar obligasi mata uang lokal. Langkah ini dinilai strategis untuk:
Meningkatkan stabilitas keuangan dengan menekan risiko nilai tukar asing.
Diversifikasi sumber pendanaan untuk proyek infrastruktur jangka panjang.
Memperkuat resiliensi ekonomi nasional terhadap guncangan eksternal.
Menuju Indonesia Emas 2045
Senada dengan OJK, Direktur Strategi Pembiayaan dan Investasi Pembangunan Bappenas, Mada Dahana, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki rapor hijau dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Berdasarkan Sustainable Development Report 2025, Indonesia meraih skor 70,2, berada di atas rata-rata global sebesar 69,5.
Mada menekankan bahwa pemerintah telah menginisiasi berbagai pembiayaan tematik seperti obligasi biru (blue bonds) dan blended finance. Namun, ia mengakui adanya keterbatasan kapasitas pendanaan, sehingga kolaborasi sektor swasta sangat diperlukan untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Fokus pada Aset Digital dan Infrastruktur
Rangkaian acara yang berlangsung selama tiga hari (2-4 Februari 2026) ini juga mencakup diskusi panel strategis dan forum teknis lainnya:
Digital Bond Market Forum (DBMF): Membahas perkembangan aset digital di pasar modal.
Cross-Border Settlement Infrastructure Forum (CSIF): Fokus pada studi kasus transaksi lintas batas antara bank sentral dan lembaga penyimpanan efek di kawasan.
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 200 peserta secara hybrid, menghadirkan pakar dari berbagai institusi seperti Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, hingga organisasi internasional seperti ICMA dan Nomura Asset Management.*S05





